1 - Orang yang beribadah pada malam tersebut merasakan
lazatnya ibadah, ketenangan hati dan kenikmatan bermunajat kepada Rabb-nya
tidak seperti malam-malam lain.
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam
kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu
lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan
malaikat Jibril dengan izin Rabbnya untuk mengatur segala urusan. Malam itu
(penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (Surah AlQadr)
2 – Malam yang terang, tidak panas, tidak dingin,
tidak ada awan, tidak hujan, tidak ada angin kencang dan tidak ada yang
dilempar pada malam itu dengan bintang (lemparan meteor bagi syaitan)
Sebagaimana sebuah hadits, dari Watsilah bin al-Asqo’ dari
Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam:
“Lailatul qadar adalah malam yang terang, tidak panas, tidak
dingin, tidak ada awan, tidak hujan, tidak ada angin kencang dan tidak ada yang
dilempar pada malam itu dengan bintang (lemparan meteor bagi syaitan)” (Hadith
Riwayat at-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir 22/59 dengan sanad hasan)
3 – Cahaya mentari lemah, cerah tak bersinar kuat
keesokannya
Dari Ubay bin Ka’ab r.a, bahawasanya Rasulullah
shallahu’alaihi wa sallam bersabda:
“Keesokan hari malam lailatul qadar matahari terbit hingga
tinggi tanpa sinar..” (Hadith Riwayat Muslim)
4 – Bulan nampak separuh bulatan
Abu Hurairah r.a pernah bertutur: Kami pernah berdiskusi
tentang lailatul qadar di sisi Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam, beliau
bersabda, “Siapakah dari kalian yang masih ingat apabila bulan muncul, yang
berukuran separuh dulang.” (Hadith Riwayat Muslim)
5 – Udara dan suasana pagi yang tenang
Ibnu Abbas r.a berkata: Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam
bersabda:
“Lailatul qadar adalah malam tenteram dan tenang, tidak
terlalu panas dan tidak pula terlalu dingin, esok paginya sang matahari terbit
dengan sinar lemah berwarna merah” (Hadith hassan)
6. Kadang-kadang terbawa dalam mimpi
Seperti yang kadang-kadang dialami oleh sebahagian sahabat
Nabi radhiallahu ’anhum. Syeikh Yusuf Khattar Muhammad menyatakan hikmah tidak
ditentukan Lailatul Qadar secara jelas adalah supaya kita sentiasa melakukan
ibadah kepada Allah pada setiap malam dalam bulan Ramadhan khususnya pada 10
malam yang terakhir.
“Carilah malam lailatul qadar pada sepuluh hari yang terakhir.
Namun jika salah seorang dari kamu tidak mampu, maka jangan sampai terlepas
pada hari ketujuh yang terakhir.” (Hadis Riwayat Muslim)
Aisyah r.a mengatakan:
“Rasulullah ShallAllahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf di
sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan dan beliau bersabda, yang ertinya:
“Carilah malam Lailatul Qadar di (malam ganjil) pada 10 hari terakhir bulan
Ramadhan” ” (Hadis Riwayat Bukhari 4/225 dan Muslim 1169)
Bilakah Tarikh Malam Lailatul Qadar?
Lailatul Qadar satu malam dalam bulan Ramadhan yang tidak
diketahui dengan tepat tarikhnya. Ia lebih diharapkan untuk mendapatkannya pada
10 malam yang terakhir Ramadhan, terutama malam-malam yang ganjil daripada 10
hari terakhir Ramadhan tersebut.
Waktunya dikira apabila masuk waktu Maghrib sehingga terbit
fajar. Seluruh ulama
sepakat bahawa al-Quran diturunkan pada malam al-Qadar,
sebahagian ulama berpendapat malam al-Quran diturunkan itu berlaku pada 17
Ramadhan, Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfury dalam kitab Sirah Nabawiyyah
mengatakan al-Quran diturunkan pada malam ke 21 Ramadhan.
Rujukan:
- Al-Nafahat
al-Nuraniyah fi Fadhail al-Ayyam wa al-Layali wa al-Syuhur al-Qomariyah –
Syeikh Yusuf Khattar Muhammad.
- Fath
al-Bari bi Syarh Sohih al-Bukhari – Al-Hafiz Ahmad bin Ali bin hajar
al-Asqolani.
- Buletin
Al-Madina edisi 390
No comments:
Post a Comment